Dari Pelatihan hingga Publikasi Ilmiah, Lucia Runggeari Bawa Cerita Kopi Papua ke Panggung Nasional

author
2 minutes, 57 seconds Read

 

JAYAPURA, Hukum-kriminal.com — Bukan sekadar secangkir kopi, Papua memiliki cerita, identitas, masyarakat, dan potensi ekonomi yang layak dikenal lebih luas. Semangat itulah yang diangkat Lucia Runggeari melalui program English Coffee Storytelling, sebuah proyek pengembangan masyarakat (community development project) SAGU Foundation yang memadukan pembelajaran bahasa Inggris dengan kekayaan cerita kopi Papua.
Program tersebut menjadi langkah kreatif untuk memperkuat kapasitas pelaku industri kopi sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk memperkenalkan produk dan identitas Papua kepada masyarakat yang lebih luas. Minggu, 23/8/2026.

Dipimpin Lucia bersama Azarya Patty dan Rachel Mansawan, yang ketiganya merupakan tutor di SAGU Foundation, kegiatan ini melibatkan barista, petani kopi, serta pencinta kopi yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris sesuai kebutuhan mereka di dunia kopi.
Bukan Sekadar Belajar Bahasa, tetapi Mengangkat Identitas Papua
Pendekatan yang digunakan dalam English Coffee Storytelling tidak berhenti pada penguasaan kosakata. Peserta diajak memahami istilah yang berkaitan dengan budidaya kopi, proses pascapanen, karakteristik rasa, teknik penyeduhan, hingga bagaimana memperkenalkan produk kopi Papua dalam bahasa Inggris.
Pembelajaran dilakukan di SAGU Foundation dan Highland Roastery, sehingga peserta dapat langsung menghubungkan materi dengan aktivitas mereka sehari-hari.

Di sinilah kekuatan storytelling menjadi pembeda.

Peserta tidak hanya belajar menjelaskan rasa atau produk kopi, tetapi juga diajak menceritakan dari mana kopi tersebut berasal, bagaimana lingkungan tempat kopi ditanam, serta siapa saja masyarakat yang berada di balik perjalanan kopi hingga sampai ke tangan konsumen.

“English Coffee Storytelling bukan hanya tentang belajar bahasa Inggris, tetapi tentang membangun kepercayaan diri dan menyuarakan cerita Papua melalui kopi,” kata Lucia.

Pendidikan, Bisnis, dan Pemberdayaan Berjalan Bersama

Peran Lucia dalam program tersebut juga tidak terlepas dari aktivitasnya sebagai tutor SAGU Foundation sekaligus CEO Highland Roastery, rumah produksi kopi di Jayapura yang mengolah dan memasarkan kopi Papua, bekerja sama dengan petani lokal, serta menyediakan ruang pelatihan bagi barista dan komunitas kopi.

Usaha tersebut dikelolanya bersama sang suami, Yafeth Wetipo.
Kombinasi pengalaman di bidang pendidikan dan industri kopi membuat program yang dikembangkan Lucia memiliki pendekatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pembelajaran bahasa tidak ditempatkan sebagai teori semata, tetapi diarahkan agar dapat digunakan dalam aktivitas nyata di sepanjang rantai nilai kopi.

Dari Pengalaman Lapangan Menjadi Publikasi

Menariknya, perjalanan English Coffee Storytelling tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai.
Pengalaman program tersebut dituangkan Lucia melalui artikel “Strengthening Voices: English Coffee Storytelling for Baristas and Farmers in Papua”, yang dipublikasikan di website SAGU Foundation pada 14 Juli 2025.

Langkah tersebut kemudian berkembang ke ranah akademik.

Pada 5 Agustus 2026, Lucia bersama Rachel Mansawan, Azarya Binoni Patty, dan Yafeth Wetipo mempublikasikan artikel ilmiah berjudul “English for Specific Purposes Through Coffee Storytelling: Assessing Communication Competencies of Value Chain Actors in Jayapura, Papua” dalam Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian.
Publikasi itu mengangkat pembelajaran bahasa Inggris berbasis kebutuhan pekerjaan (English for Specific Purposes) dan kaitannya dengan kemampuan komunikasi para pelaku industri kopi di Jayapura.

Kopi Papua Punya Cerita yang Layak Didengar

Apa yang dilakukan Lucia dan tim memperlihatkan bahwa pengembangan potensi kopi tidak hanya berbicara mengenai produksi dan pemasaran.
Ada aspek pendidikan, kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, identitas budaya, serta kemampuan masyarakat untuk menceritakan sendiri potensi yang mereka miliki.
Melalui English Coffee Storytelling, kopi Papua ditempatkan bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai media untuk membawa cerita Papua ke ruang yang lebih luas.

Kolaborasi Lucia, Azarya, dan Rachel sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran dapat tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat. Ketika pendidikan, dunia usaha, dan komunitas dipertemukan, lahirlah sebuah pendekatan yang tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga membuka peluang bagi cerita lokal untuk mendapatkan panggung yang lebih luas.
Dari kebun kopi Papua, lahir cerita. Dari cerita, tumbuh kepercayaan diri. Dan dari proses pembelajaran, potensi Papua terus dibawa menuju panggung yang lebih luas.(Agil)

Bagikan Berita/Artikel ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *