

Wonogiri, Hukum-Kriminal.com – Ada yang berbeda di Desa Kembang, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Selasa (24/2/2026). Sejak pagi buta, sebelum suara palu terdengar menghantam kayu dan genteng, sejumlah prajurit TNI terlihat menyusuri gang-gang sempit desa. Mereka bukan sedang patroli. Mereka menjemput anak-anak sekolah.
Tim kami menelusuri langsung aktivitas Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0728/Wonogiri. Hasilnya, program ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ada pendekatan sosial yang berjalan simultan—senyap, tapi berdampak.
Beberapa personel Satgas terlihat mendatangi rumah warga satu per satu. Anak-anak yang biasanya bangun siang dan kerap terlambat, kini sudah berseragam rapi. Mereka diantar hingga gerbang SD Negeri 1 Kembang.
Pratu Ibnu, salah satu personel di lapangan, mengakui kegiatan itu rutin dilakukan sebelum pekerjaan pembangunan dimulai.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap semangat sekolah. Kalau pendidikan kuat, desa ini juga akan kuat,” ujarnya.
Keterangan tersebut diperkuat oleh Warto (32), guru setempat. Ia menyebut perubahan terjadi cukup signifikan sejak kehadiran Satgas.
“Dulu masih ada yang sering terlambat. Sekarang hampir tidak ada. Anak-anak jadi lebih disiplin,” katanya.
Pertanyaannya: apakah ini bagian dari strategi terencana TMMD atau inisiatif personal anggota di lapangan? Berdasarkan penelusuran, kegiatan tersebut memang tidak tertulis sebagai target fisik program, namun menjadi bagian dari pembinaan teritorial yang melekat pada tugas Satgas.
Di titik lain Desa Kembang, aktivitas fisik berjalan intens. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Sainem, warga RT 4/RW 4 Dusun Golo, menjadi salah satu sasaran prioritas.
Material genteng didistribusikan bertahap. Proses bongkar muat dilakukan gotong royong antara Satgas dan warga menggunakan angkong. Tidak ada alat berat. Semua manual.
Kopral Dua Slamet menegaskan distribusi material menjadi faktor penentu progres.
“Kalau material terlambat, pekerjaan pasti terhambat. Maka kami atur bertahap sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Dari pantauan lapangan, metode distribusi bertahap memang diterapkan untuk menghindari penumpukan material. Sistem ini dinilai lebih efektif di medan perkampungan dengan akses terbatas.
Namun investigasi kami juga mencatat, percepatan distribusi menjadi tantangan tersendiri apabila cuaca berubah ekstrem atau akses jalan terganggu. Hingga hari ini, proses masih berjalan sesuai tahapan.
Program TMMD Reguler ke-127 tidak hanya menggarap infrastruktur. Di Desa Kembang, pola pendekatan sosial terlihat berjalan beriringan dengan pembangunan RTLH.
Kehadiran prajurit di tengah masyarakat—mengantar anak sekolah di pagi hari dan mengangkut genteng di siang hari—menciptakan efek psikologis tersendiri. Ada kedekatan, ada kepercayaan, dan ada harapan.
Investigasi ini menunjukkan bahwa TMMD bukan hanya soal angka progres pembangunan, tetapi juga tentang bagaimana program tersebut diterjemahkan di lapangan.
Desa Kembang kini menjadi potret kecil bagaimana sinergi TNI dan warga diuji—bukan hanya oleh target waktu, tetapi oleh konsistensi komitmen di lapangan. (Andy)
