Besi “Disunat”, Proyek Negara Dijadikan Ajang Akal-akalan Proyek Balai Wilayah Sungai Jalan Teluk–Desa Ngiri Disorot, Diduga Kerjakan Spek Tak Sesuai Kontrak

author
1 minute, 31 seconds Read




Demak, Hukum-kriminal.com — Proyek pembangunan infrastruktur di bawah naungan Balai Wilayah Sungai (BWS) di jalur Jalan Teluk menuju Desa Ngiri kini menjadi sorotan tajam. Aroma dugaan permainan spek mencuat ke permukaan. Publik mempertanyakan: apakah proyek ini benar-benar dibangun untuk rakyat, atau sekadar ladang basah oknum tak bertanggung jawab?

Di lapangan, temuan yang mengemuka cukup mencengangkan. Struktur beton yang berdasarkan spesifikasi teknis (spek) seharusnya menggunakan dua lapis besi tulangan, diduga hanya dipasang satu lapis. Jika benar, ini bukan sekadar kesalahan teknis—ini bisa dikategorikan sebagai pelanggaran serius terhadap kontrak kerja.

Fakta yang Memantik Kecurigaan
Pengurangan Volume Material
Penghilangan satu lapis besi bukan persoalan sepele. Dalam konstruksi beton bertulang, setiap lapisan memiliki fungsi vital menopang beban dan menjaga daya tahan jangka panjang. Mengurangi lapisan berarti mengurangi kekuatan.
Dugaan Pengawasan Tumpul
Proyek terkesan dikebut tanpa kontrol ketat. Pertanyaannya, di mana peran pengawas? Apakah ini kelalaian, pembiaran, atau ada kompromi yang tak kasat mata?

Potensi Kerugian Negara
Jika spek dikurangi sementara anggaran tetap utuh, maka selisihnya ke mana? Uang rakyat yang seharusnya menjadi infrastruktur berkualitas justru terancam berubah menjadi bangunan rapuh yang rawan rusak dini.

Seorang warga yang enggan disebut namanya angkat suara.
“Kalau benar dari dua lapis jadi satu lapis, itu bukan sekadar hemat material. Itu sudah masuk kategori mempermainkan keselamatan publik. Jangan sampai proyek negara dikerjakan dengan mentalitas ‘asal jadi’,” tegasnya saat memantau lokasi, Senin (2/3/2026).

Kondisi ini memantik keresahan masyarakat sekitar. Mereka mendesak agar pengawas internal BWS dan aparat pemeriksa keuangan turun langsung melakukan audit fisik secara menyeluruh. Jangan sampai proyek yang dibiayai uang negara berubah menjadi bom waktu bagi pengguna jalan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor pelaksana maupun perwakilan BWS belum memberikan klarifikasi resmi. Publik kini menunggu, apakah dugaan ini akan dibuka terang-benderang atau justru tenggelam dalam sunyi birokrasi.
Satu hal yang pasti: proyek negara bukan ruang kompromi. Setiap batang besi yang “hilang” bisa menjadi simbol hilangnya integritas. (Agil)

Bagikan Berita/Artikel ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *