Diduga Lapangan Sepak Bola Desa Mranggen Disulap Jadi Lapak Bisnis — Warga Murka, Kades Dituding Abaikan Aspirasi Rakyat!

1 minute, 22 seconds Read




Demak, Hukum-kriminak.com – Desa Mranggen diguncang badai kemarahan! Kebijakan nekat Kepala Desa Mranggen, Nur, yang diduga menyulap lapangan sepak bola kebanggaan warga menjadi pasar lapak bisnis berujung pada penolakan besar-besaran dari masyarakat.

Lapangan yang selama ini menjadi jantung olahraga dan kebanggaan pemuda desa, kini justru diincar untuk disewakan kepada pedagang dengan tarif sekitar Rp.600 ribu per bulan. Ironisnya, kebijakan tersebut diambil tanpa adanya Peraturan Desa (Perdes) yang sah.

“Lapangan itu tempat anak-anak kami berlari mengejar mimpi, bukan untuk dijadikan mesin uang pribadi!” teriak seorang tokoh masyarakat dengan nada geram saat ditemui awak media.

Kemarahan warga semakin memuncak setelah terungkap bahwa rapat pembahasan proyek kontroversial ini dilakukan diam-diam di rumah pribadi Kepala Desa, bukan di balai desa seperti semestinya. Dugaan kongkalikong dan kepentingan tersembunyi pun tak terelakkan.

“Kalau rapat saja disembunyikan, apa lagi yang mau mereka tutupi?” celetuk seorang warga dengan nada sinis.

Akibat proyek itu, Pasar Induk Mranggen kini kian sepi, pedagang berbondong-bondong pindah ke lapangan bola. Warga menilai langkah Kepala Desa justru membunuh ekonomi resmi desa dan merusak ruang publik anak-anak.

Masyarakat kini menuntut Camat Mranggen dan Bupati Demak turun tangan secepatnya!
Mereka mendesak agar proyek pasar di atas lapangan bola segera dibatalkan dan diusut tuntas.

“Jangan biarkan ambisi sesaat merenggut masa depan anak-anak kami! Ini bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat!” teriak warga dengan suara bergetar.

Kasus Lapangan Mranggen kini menjadi sorotan publik. Bukan sekadar konflik kecil di desa, tapi potret telanjang bagaimana kekuasaan bisa menginjak hak rakyat kecil demi kepentingan segelintir orang.

Apakah penegak hukum akan diam? Atau justru rakyat yang akan kembali menjadi korban permainan licik kebijakan?

Waktu akan menjawab. Tapi satu hal pasti — warga Mranggen tak akan tinggal diam. (Agil)

Bagikan Berita/Artikel ini

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *