
Poto** MBG yg dibagikan pada hari kamis dan Jumat
Hukum-kriminal.com — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI Matholibul Huda Desa Ruwit, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, menuai sorotan publik. Dokumentasi menu yang beredar memicu tanda tanya besar: layakkah komposisi tersebut disebut “bergizi” untuk anak usia sekolah dasar?
Berdasarkan informasi yang diterima redaksi, menu pada Kamis (26/2/2026) terdiri dari satu bungkus roti kemasan, satu plastik roti kering, dan satu buah apel. Sementara pada Jumat (27/2/2026), siswa menerima satu telur asin, satu roti kering, dan satu buah jeruk dalam kemasan terpisah, dan di berikan pada siswa Kamis, 26/2/2026.
Sekilas tampak sederhana. Namun publik bertanya: apakah kombinasi tersebut telah memenuhi prinsip gizi seimbang bagi anak-anak yang membutuhkan energi dan nutrisi optimal untuk belajar?
Sejumlah wali murid berharap adanya evaluasi serius terhadap variasi, komposisi, dan porsi makanan. Mereka menilai, program yang digagas untuk meningkatkan kualitas gizi siswa seharusnya tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi benar-benar memperhatikan keseimbangan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.
“Harapannya menu lebih beragam dan porsinya cukup untuk kebutuhan anak-anak,” ujar salah satu orang tua siswa dengan nada prihatin.
Program MBG sejatinya bertujuan mulia: mendukung pemenuhan asupan nutrisi siswa selama kegiatan belajar mengajar. Namun tujuan besar itu menuntut konsistensi standar menu, kecukupan kalori, serta pengawasan distribusi yang ketat. Tanpa itu, program berisiko kehilangan makna dan hanya menjadi rutinitas administratif.
Pertanyaannya kini mengemuka:
Apakah menu tersebut sudah mengacu pada standar gizi anak usia sekolah? Siapa yang melakukan pengawasan komposisi dan kualitas bahan makanan? Apakah ada evaluasi berkala terhadap kepuasan dan kebutuhan siswa?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak penyelenggara belum memberikan keterangan resmi terkait standar komposisi menu harian di madrasah tersebut.
Redaksi akan terus menelusuri dan menunggu klarifikasi dari pihak terkait guna memastikan pelaksanaan program benar-benar selaras dengan tujuan awalnya: meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa, bukan sekadar memenuhi kewajiban program. (Agil)
